Selamat Hari Kartini

Selamat Hari Kartini

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderrichtZelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.

Bakti Sosial Peduli Covid 19

Bakti Sosial Peduli Covid 19

Ikut peduli terhadap pekerja Ojol dan pedagang kecil  yang terkena dampak akibat virus Corona, SMKN 48  mengadakan program pembagian Sembako kepada pengemudi Ojek Online (Ojol)  dan Pedagang kecil di SMKN 48 JKT

Pembagian bahan pangan kepada para Ojol ini sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang pendapatannya ikut terdampak virus Corona yang lagi mewabah saat ini.

Tambahnya, sebagian dari Ojol ini, rata-rata pekerjaannya terdampak virus Corona tersebut sehingga perputaran ekonominya pasti mengalami penurunan disebabkan penumpang sepi. Oleh karena SMKN 48 JKT berupaya untuk mencari solusi agar para Ojol bisa terbantu dalam sisi kehidupan sehari-hari.“Walaupun bentuk bantuan ini belum akan mencukupi bagi mereka namun kami berharap bantuan ini dapat membantu di tengah Covid 19,” ungkapnya.

Sekolah Sehat

Sekolah Sehat

Tim penilai Lomba Sekolah  Sehat (LSS) Tingkat Provinsi DKI Jakarta menyambangi SMK Negeri 48 Jakarta di Jalan Raden Inten Kelurahan Kalender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (26/9/2019).

Kedatangan tim penilai LSS Tingkat Provinsi DKI Jakarta di sekolah tersebut berjumlah 12 anggota. Mereka datang dibawah pimpinan Ketua Tim Penilai LSS Tingkat Provinsi DKI Jakarta Husin yang diterima langsung oleh Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Uus Kuswanto.

“Sampai saat ini, hasil tinjauan kami sekolah ini cukup layak, dan Insya Allah dapat menjadi perwakilan DKI Jakarta ke tingkat nasional,” ujar Husin.

Ia pun menilai berbagai inovasi yang terangkum cukup berjalan baik. Menurutnya, lomba ini bertujuan menciptakan sekolah sehat. Artinya, bagaimana sebuah sekolah itu bisa dikatakan sekolah sehat, apabila  manfaat kebiasaan dari sekolah itu seluruh siswa mampu membiasakan perilaku hidup sehat sehari-hari.

Ia menilai, lomba ini bertujuan untuk menciptakan sekolah sehat. Adapun penilaian sekolah sehat adalah saat seluruh siswa mampu membiasakan perilaku hidup sehat sehari-hari.

Husin pun menilai SMK Negeri 48 Jakarta telah memiliki berbagai inovasi.

“Tadi dari masing-masing inovasi yang dipaparkan oleh siswa juga terlihat semua berjalan dengan baik. Semoga ini dapat menjadikan kebiasaan yang positif baik disekolah hingga dimasyarakat,” paparnya.

LSS Jakarta Timur

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Timur Uus Kuswanto menyambut kedatangan tim penilai LSS Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2019. Ia berharap SMK Negeri 48 Jakarta ini menjadi juara dan maju mewakili DKI Jakarta ditingkat nasional.

“Kami menerima dengan cukup bukti kesiapan yang penuh optimis, sehingga kegiatan ini dapat menata sarana pendidikan agar lebih sehat,” ungkap Uus.

Ia menambahkan, berbagai prestasi dari SMK Negeri 48 Jakarta mendukung kemajuan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan ditambah dukungan dari orang tua murid. Salah satunya dalam pelaksanaan Program Pokok UKS atau Trias UKS.

“SMK N 48 Jakarta ini, telah menyanggupi persyaratan itu. Tentunya kita juga lihat dan rasakan bahwa Trias UKS SMK N 48 Jakarta ini telah berkembang dan terbina cukup baik,” tambahnya

Sekolah Ramah Anak

Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa anak mempunyai hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

“Sekolah ramah anak bukan berarti memberikan kebebasan kepada sang anak, tetap ada kedisiplinan yang harus diterapkan. Adapun ruang lingkup yang terlibat dalam SRA ini, yakni keluarga sebagai pusat pendidikan utama dan pertama bagi anak”

Selain keluarga, lanjutnya, sekolah juga berperan penting dalam memberikan pendidikan sesuai kurikulum dan standar nasional. Tak hanya itu, sekolah pun berhak menerapkan disiplin, memberikan tempat yang aman, sehat, hijau, inklusif, dan nyaman bagi perkembangan fisik anak serta kognisi dan psikososial peserta didik. Terakhir, peran masyarakat sebagai tempat pendidikan setelah keluarga dan sekolah.

Adapun prinsip-prinsip penyelenggaraan sekolah ramah anak yang harus diterapkan, di antaranya sekolah dituntut mampu menjadi media pembelajaran bagi siswa. Tidak sekadar tempat belajar, tetapi wadah yang menyenangkan bagi anak.

“Dunia anak adalah bermain. Dalam bermain itulah, anak bisa melakukan proses belajar. Selain itu, sekolah juga memperkenalkan persaingan yang sehat dalam proses belajar mengajar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, tambahnya, sekolah harus menciptakan suasana kondusif agar anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan potensinya. Agar tercipta suasana kondusif, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Antara lain, program sekolah yang sesuai, lingkungan sekolah yang mendukung, dan sarana prasarana yang memadai.

“Sekolah adalah ruang bagi anak untuk menjalin komunikasi, juga berperan dalam pencapaian cita-cita siswa